Tutorial Failover MikroTik Lengkap: Dari Check Gateway hingga Recursive Routing
Pendahuluan
Dalam jaringan yang menggunakan lebih dari satu koneksi internet, salah satu masalah yang sering terjadi adalah ketika ISP utama mengalami gangguan.
Misalnya kita memiliki:
ISP 1 = Internet utama
ISP 2 = Internet cadanganKetika ISP 1 normal, semua koneksi menggunakan ISP 1.
Namun ketika ISP 1 mengalami gangguan, MikroTik harus bisa secara otomatis memindahkan koneksi ke ISP 2.
Proses inilah yang disebut failover.
Pada tutorial ini kita akan belajar membuat failover MikroTik secara bertahap, mulai dari konfigurasi paling sederhana menggunakan Distance dan Check Gateway, kemudian dilanjutkan dengan metode yang lebih baik menggunakan Recursive Routing.
Catatan: Failover berbeda dengan PCC Load Balancing.
Failover tidak bertujuan menggabungkan bandwidth dua ISP secara bersamaan. Tujuannya adalah menyediakan jalur utama dan jalur cadangan.
1. Gambaran Topologi
Sebagai contoh, kita menggunakan dua sumber internet:
INTERNET
/ \
ISP 1 ISP 2
| |
ether1 LTE1
\ /
\ /
MikroTik
|
ether2
|
LaptopContoh konfigurasi:
| Perangkat | Interface | IP / Gateway |
|---|---|---|
| ISP 1 | ether1 | 192.168.18.x/24 |
| Gateway ISP 1 | ether1 | 192.168.18.1 |
| ISP 2 | lte1 | 10.88.253.x/24 |
| Gateway ISP 2 | lte1 | 10.88.253.91 |
| LAN | ether2 | 10.10.10.1/24 |
Dalam contoh ini:
ISP 1 = utama
ISP 2 = backup2. Memahami Konsep Failover
Sebelum masuk ke WinBox, pahami dulu konsepnya.
Kita ingin MikroTik mempunyai dua jalur:
ISP 1
Distance = 1
ISP 2
Distance = 2Kenapa 1 dan 2?
Karena semakin kecil nilai distance, semakin diprioritaskan route tersebut ketika route-route tersebut memiliki tujuan yang sama.
Jadi:
Distance 1
↓
Jalur utama
Distance 2
↓
Jalur cadanganKetika ISP 1 aktif:
Internet
↓
ISP 1Ketika ISP 1 gagal:
Internet
↓
ISP 23. Konfigurasi IP Address
Masuk ke:
WinBox → IP → Addresses
Untuk LAN, misalnya:
Address : 10.10.10.1/24
Interface: ether2Untuk ISP 1 jika menggunakan IP statis:
Address : 192.168.18.x/24
Interface: ether1Sedangkan ISP 2 yang menggunakan LTE biasanya memperoleh IP secara otomatis.
4. Konfigurasi DHCP Client
Masuk:
IP → DHCP Client
Jika ISP 1 menggunakan IP statis, DHCP Client pada ether1 tidak diperlukan.
Sedangkan untuk koneksi yang memang menggunakan DHCP, biarkan DHCP Client bekerja.
Pada contoh LTE:
Interface: lte1
Status : boundPerhatikan opsi:
Add Default Route = nojika kita ingin membuat default route sendiri.
Dengan begitu, MikroTik mendapatkan IP dari ISP, tetapi kita sendiri yang mengatur jalur routing-nya.
5. Membuat NAT untuk ISP 1
Masuk:
IP → Firewall → NAT
Klik New (+).
Pada tab General:
Chain : srcnat
Out. Interface: ether1Kemudian tab Action:
Action: masqueradeKlik:
Apply → OK
Artinya, trafik dari jaringan lokal yang keluar melalui ISP 1 akan dilakukan NAT.
6. Membuat NAT untuk ISP 2
Buat rule kedua.
Pada General:
Chain : srcnat
Out. Interface: lte1Pada Action:
Action: masqueradeKlik:
Apply → OK
Sekarang masing-masing ISP memiliki NAT:
LAN
|
MikroTik
|\
| \
ISP1 ISP2
| |
NAT NATIni penting. Jangan sampai ISP kedua sudah dikonfigurasi tetapi lupa NAT. Router kemudian terlihat sehat, sementara client bertanya kenapa internetnya tidak ikut sehat.
7. Failover Sederhana dengan Distance
Sekarang masuk ke bagian routing.
Buka:
IP → Routes
Klik New (+).
Route ISP 1
Isi:
Dst. Address : 0.0.0.0/0
Gateway : 192.168.18.1
Distance : 1Klik Apply → OK.
Kemudian buat route kedua.
Route ISP 2
Dst. Address : 0.0.0.0/0
Gateway : 10.88.253.91
Distance : 2Hasilnya:
0.0.0.0/0 → ISP 1 → Distance 1
0.0.0.0/0 → ISP 2 → Distance 2Sekarang ISP 1 menjadi jalur utama.
8. Apa Fungsi Check Gateway?
Sekarang kita naik satu tingkat.
Pada route ISP 1:
0.0.0.0/0
Gateway = 192.168.18.1kita dapat menggunakan:
Check Gateway = pingFungsinya adalah meminta MikroTik melakukan pemeriksaan terhadap gateway.
Secara sederhana:
"Gateway ISP 1 masih bisa merespons ping atau tidak?"
Jika gateway dianggap tidak bisa dijangkau, route dapat menjadi tidak aktif sehingga MikroTik dapat menggunakan route cadangan.
Konsepnya:
ISP 1
↓
Gateway
↓
Bisa diping?
↓
YA → gunakan ISP 1
TIDAK → gunakan ISP 29. Masalah Check Gateway Biasa
Di sinilah kita menemukan alasan mengapa recursive routing berguna.
Misalnya:
MikroTik
↓
192.168.18.1
↓
ISP 1
↓
InternetKemudian koneksi internet ISP 1 mengalami gangguan.
Tetapi router milik ISP masih hidup.
Maka:
Ping 192.168.18.1
↓
suksesMikroTik bisa saja masih menganggap jalur tersebut tersedia.
Padahal:
192.168.18.1 → INTERNET
XInternetnya mati.
Jadi kita membutuhkan pemeriksaan yang lebih jauh.
10. Apa Itu Recursive Routing?
Recursive routing memungkinkan MikroTik menggunakan alamat internet tertentu sebagai target pemeriksaan.
Contohnya:
1.1.1.1untuk memonitor jalur ISP 1.
Sedangkan:
8.8.8.8untuk memonitor jalur ISP 2.
Logikanya:
ISP 1 → 1.1.1.1
ISP 2 → 8.8.8.8Kalau ISP 1 tidak mampu mencapai 1.1.1.1, route ISP 1 dianggap bermasalah.
11. Membuat Route Monitoring ISP 1
Masuk:
IP → Routes → New (+)
Isi:
Dst. Address : 1.1.1.1/32
Gateway : 192.168.18.1Kemudian masuk ke:
Advanced
Cari:
ScopeIsi:
10Klik:
Apply → OK
Hasilnya:
1.1.1.1/32
↓
192.168.18.1
↓
ether1
↓
ISP 1Artinya:
Untuk mencapai 1.1.1.1, MikroTik harus melewati ISP 1.
12. Membuat Route Monitoring ISP 2
Buat route kedua.
Dst. Address : 8.8.8.8/32
Gateway : 10.88.253.91Pada:
Advanced → Scope
isi:
10Klik:
Apply → OK
Sekarang:
8.8.8.8/32
↓
10.88.253.91
↓
lte1
↓
ISP 213. Membuat Recursive Default Route ISP 1
Sekarang kita membuat default route yang menggunakan 1.1.1.1 sebagai gateway.
Klik:
IP → Routes → New (+)
Isi:
Dst. Address : 0.0.0.0/0
Gateway : 1.1.1.1
Distance : 1Kemudian pada Advanced:
Target Scope : 11Dan:
Check Gateway: pingKlik:
Apply → OK
Perhatikan bahwa gateway-nya bukan:
192.168.18.1melainkan:
1.1.1.1Kenapa?
Karena MikroTik akan melakukan pencarian secara berantai.
0.0.0.0/0
↓
1.1.1.1
↓
1.1.1.1/32
↓
192.168.18.1
↓
ether1
↓
ISP 1Inilah yang dimaksud recursive routing.
14. Membuat Recursive Default Route ISP 2
Buat route kedua:
Dst. Address : 0.0.0.0/0
Gateway : 8.8.8.8
Distance : 2Pada Advanced:
Target Scope : 11Dan:
Check Gateway: pingKlik:
Apply → OK
Alurnya:
0.0.0.0/0
↓
8.8.8.8
↓
8.8.8.8/32
↓
10.88.253.91
↓
lte1
↓
ISP 215. Memahami Scope dan Target Scope
Ini merupakan bagian yang paling sering membuat pemula bingung.
Jangan menghafal angka 10 dan 11 saja.
Pahami konsepnya.
Scope
Secara sederhana:
Menentukan seberapa jauh sebuah route dapat digunakan dalam proses pencarian gateway.
Kita memiliki:
1.1.1.1/32
Scope = 10Target Scope
Target Scope menentukan batas scope route yang boleh digunakan untuk mencari gateway dari sebuah route.
Kita memiliki:
0.0.0.0/0
Target Scope = 11Sehingga:
Target Scope 11
↓
boleh menggunakan
↓
Scope 10Makanya recursive lookup dapat bekerja.
16. Bentuk Route List yang Diharapkan
Setelah konfigurasi selesai, bagian penting dari Route List kira-kira akan terlihat seperti:
DAC 192.168.18.0/24 → ether1
DAC 10.88.253.0/24 → lte1
DAC 10.10.10.0/24 → ether2
AS 1.1.1.1/32 → 192.168.18.1
AS 8.8.8.8/32 → 10.88.253.91
AS 0.0.0.0/0 → 1.1.1.1
AS 0.0.0.0/0 → 8.8.8.8Dengan:
ISP 1 = Distance 1
ISP 2 = Distance 217. Cara Membaca Flag Route
Di Route List, MikroTik memberikan beberapa kode di depan route.
Beberapa yang sering ditemui:
| Flag | Arti |
|---|---|
A | Active |
D | Dynamic |
S | Static |
C | Connected |
I | Inactive |
X | Disabled |
+ | ECMP |
Contohnya:
ASberarti:
A = Active
S = StaticSedangkan:
USIberarti route tersebut:
U = Unreachable
S = Static
I = InactiveJadi kalau melihat USI, jangan panik. MikroTik sedang bilang:
"Route ini ada, tetapi gue nggak bisa menggunakannya."
18. Apa Arti AS+?
Misalnya lu melihat:
AS+Jangan menganggap + berarti route tersebut lebih diprioritaskan.
+ berkaitan dengan ECMP, yaitu beberapa route dengan biaya yang sama dapat digunakan bersama.
Prioritas failover kita tetap ditentukan oleh:
DistanceContoh:
ISP 1 → Distance 1
ISP 2 → Distance 2Jadi:
Distance 1
↓
lebih diprioritaskan
Distance 2
↓
cadangan19. Cara Kerja Failover Secara Keseluruhan
Sekarang kita gabungkan semuanya.
Laptop mengakses internet:
Laptop
↓
ether2
↓
MikroTikMikroTik melihat tujuan internet:
0.0.0.0/0Ada dua route:
ISP 1 → Distance 1
ISP 2 → Distance 2Maka ISP 1 dipilih.
Recursive lookup kemudian bekerja:
0.0.0.0/0
↓
1.1.1.1
↓
1.1.1.1/32
↓
192.168.18.1
↓
ether1
↓
ISP 1Jika ISP 1 gagal mencapai target monitoring:
ISP 1
↓
1.1.1.1
Xmaka route ISP 1 menjadi tidak aktif.
MikroTik kemudian memilih:
Distance 2dan jalurnya berubah menjadi:
0.0.0.0/0
↓
8.8.8.8
↓
8.8.8.8/32
↓
10.88.253.91
↓
lte1
↓
ISP 2Inilah failover otomatis.
20. Cara Menguji Failover
Jangan hanya melihat internet masih bisa dibuka. Kita harus benar-benar menguji apakah perpindahan jalur bekerja.
Pengujian pertama: kondisi normal
Pastikan:
ISP 1 = ON
ISP 2 = ONKemudian buka:
Tools → Ping
Coba:
8.8.8.8Jika berhasil, lanjutkan.
Pengujian kedua: matikan ISP 1
Disable interface:
ether1Sekarang lihat:
IP → Routes
Route ISP 1 seharusnya menjadi tidak aktif.
Sementara route ISP 2 menjadi jalur yang digunakan.
Kemudian lakukan ping lagi:
8.8.8.8Jika tetap berhasil:
Failover bekerja.
21. Mengembalikan ISP 1
Aktifkan kembali:
ether1Tunggu sampai route monitoring ISP 1 kembali aktif.
Karena ISP 1 mempunyai:
Distance = 1sedangkan ISP 2:
Distance = 2maka trafik akan kembali menggunakan ISP 1.
22. Failover vs PCC Load Balancing
Ini penting karena keduanya sering dianggap sama.
Failover
ISP 1 = utama
ISP 2 = cadanganContohnya:
ISP1 ████████████████████
ISP2Ketika ISP1 mati:
ISP1 ❌
ISP2 ████████████████████Tujuan utamanya adalah ketersediaan koneksi.
PCC Load Balancing
PCC bekerja dengan membagi koneksi ke beberapa ISP.
Contohnya:
Connection 1 → ISP1
Connection 2 → ISP2
Connection 3 → ISP1
Connection 4 → ISP2Tujuannya adalah membagi trafik/koneksi di antara beberapa jalur.
Jadi:
Failover = cadangan.
PCC = pembagian koneksi.
23. Kesimpulan
Dengan konfigurasi failover MikroTik, kita dapat menyediakan koneksi internet cadangan ketika ISP utama mengalami gangguan.
Urutan konsepnya:
IP Address
↓
NAT
↓
Default Route
↓
Distance
↓
Check Gateway
↓
Masalah Check Gateway
↓
Recursive Routing
↓
Scope
↓
Target Scope
↓
Testing FailoverUntuk konfigurasi sederhana:
ISP 1
Distance 1
↓
utama
ISP 2
Distance 2
↓
backupSedangkan dengan recursive routing, MikroTik tidak hanya memeriksa apakah gateway lokal masih hidup, tetapi menggunakan target IP tertentu untuk membantu menentukan apakah jalur internet tersebut masih dapat digunakan.
Dengan begitu, failover menjadi lebih dapat diandalkan dibandingkan hanya mengandalkan pemeriksaan gateway lokal.
Ringkasan Konfigurasi
ISP 1
Interface : ether1
Gateway : 192.168.18.1ISP 2
Interface : lte1
Gateway : 10.88.253.91Monitoring ISP 1
1.1.1.1/32
Gateway = 192.168.18.1
Scope = 10Monitoring ISP 2
8.8.8.8/32
Gateway = 10.88.253.91
Scope = 10Recursive Default ISP 1
0.0.0.0/0
Gateway = 1.1.1.1
Distance = 1
Target Scope = 11
Check Gateway = pingRecursive Default ISP 2
0.0.0.0/0
Gateway = 8.8.8.8
Distance = 2
Target Scope = 11
Check Gateway = pingCatatan: IP address, gateway, dan nama interface pada setiap jaringan dapat berbeda. Sesuaikan nilai konfigurasi dengan ISP dan topologi MikroTik yang digunakan.
